December 7, 2011

Mesin Waktu, antara Cita-Cita Pribadi dan Super Power Indonesia

Menurut teori relativitas Einstein, kontinum ruang dan waktu adalah sejajar, tetapi dapat pula dibelokkan melalui gaya gravitasi. Teori demikian diperkuat oleh Amos Ori, profesor dari Technion, yang menyatakan bahwa hukum gravitasi memungkinkan pembelokkan ruang dan waktu, sehingga memungkinkan perjalanan menembus ruang dan waktu menjadi sesuatu hal yang tidak lagi mustahil. Namun demikian, para relativist (penganut paham relativitas Einstein) menyadari bahwa pasti terdapat hukum alam yang mampu mematahkan kemungkinan perjalanan menembus ruang dan waktu. Kesadaran demikian mengemuka ketika sebuah argumen sederhana muncul: apabila seseorang melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu kembali ke masa lalu, kemudian mencegah kelahirannya, misalnya dengan membunuh neneknya ketika masih bayi atau dengan memastikan bahwa kedua orang tuanya tidak pernah bertemu dan menikah, sehingga kemudian dia pun tidak akan pernah terlahir. Apa yang terjadi? Argumen sederhana ini membuktikan bahwa perjalanan menembus ruang dan waktu adalah sesuatu yang mustahil.
Saya tidak ingin masuk dalam perdebatan mengenai kemungkinan perjalanan menembus ruang dan waktu. Sederhana saja, saya tidak memiliki kompetensi untuk berbicara lebih lanjut mengenai hal tersebut. Tetapi, yang ingin saya lakukan adalah: menganggap bahwa perjalanan menembus ruang dan waktu sebagai hal yang mungkin untuk dilakukan. Dengan mesin waktu misalnya. Pertanyaannya adalah, apa yang akan saya lakukan apabila saya dapat kembali ke masa lalu dengan mesin waktu?
Apabila kesempatan tersebut terjadi pada saya empat tahun yang lalu, masa awal saya memasuki dunia kampus, pasti, saya akan memperbaiki setiap kecil kesalahan saya yang membuat saya gagal masuk Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Atau lebih ekstrem, saya “merampok” seluruh harta kekayaan masa depan (ide, pemikiran, karya seni sastra budaya, dll.), kemudian memberikannya kepada diri saya di masa lampau. Dengan demikian, saya dapat mengklaim seluruh kekayaan masa depan sebagai buah karya saya. Milik saya. Sebut saja, seluruh karya akademis Jimly Asshiddiqie dalam kurun waktu beliau menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, saya membawa dan memberikannya kepada diri saya di masa lalu, memintanya untuk mempelajarinya, dan mengungkapkannya sebelum Jimly mengungkapkannya. Dan karya tersebut menjadi milik saya. Saya pun dapat melakukan terhadap karya-karya, ide-ide, pemikiran-pemikiran, maupun konsep-konsep tatanan sosial-politik kenegaraan lainnya. Dan... saya pun menjadi pemilik seluruh karya tersebut. Bahkan, dengan nasib baik, orang-orang akan mengklaim saya sebagai negarawan termuda dalam sejarah Indonesia.
Atau mungkin, saya merubah jalan hidup saya untuk tidak menjadi seorang akademisi, melainkan seorang seniman atau sastrawan. Karena suara saya tidak cukup bagus, saya dapat menjadi penulis lagu dan membentuk sebuah grup band. Lagu-lagu untuk grup band saya sudah pasti lagu-lagu yang menjadi top list pada tangga lagu di seluruh negeri pada masa depan. Misalnya, karya-karya Ahmad Dhani, Ariel Peterpan, Letto, Ada Band, maupun grup band atau musisi lainnya. Sebagai sastrawan, saya dapat “merampok” buku The Da Vinci Code, Angels and Demons, Digital Fortress karya Dan Brown, Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman Saerozi, Laskar Pelangi karya Andre Hirata, atau karya-karya lainnya, dan menjadikannya buah karya saya. Yang perlu saya lakukan adalah mengganti nama-nama mereka dengan nama saya, menerbitkannya jauh sebelum mereka sempat mendapat ide-ide karya sastra mereka. Dan... saya-lah penulis buku-buku tersebut. Dengan demikian, secara sederhana saya dapat merumuskan sebuah konklusi: popularitas dan kekayaan pun akan saya dapatkan cuma-cuma.
Tetapi, memasuki akhir dunia kampus, saya tersadarkan bahwa selama saya masih melihat masyarakat bangsa saya –meskipun hanya hitungan jari tangan saya, menderita, maka perayaan terasa hampa. Popularitas dan kekayaan pribadi menjadi tidak berarti. Tidak lah menyenangkan hidup hebat di antara komunitas yang tidak memiliki –bahkan hanya sekedar kesempatan untuk menggapai, kehebatan. Bukan pada popularitas maupun kekayaan pribadi, kegembiraan hakiki saya terletak. Tetapi ketika perjuangan kolektif menang, di mana seluruh bangsa saya turut menikmati kemenangan, inilah yang menjadi sebab lahirnya kegembiraan hakiki saya. Pada kondisi demikian, saya mencoba merekonstruksi ulang keinginan saya ketika mendapat kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Satu hal yang ingin saya lakukan, menjadikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, di mana seluruh rakyatnya memperoleh dan merasakan secara hakiki kemakmuran yang berkeadilan sejahtera. Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negara paling disegani dan dihormati oleh seluruh komunitas negara-negara di belahan bumi ini.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, satu cara yang terpikirkan oleh saya. Mengumpulkan dan membawa seluruh ilmuwan dan cendekiawan bermoral Pancasila pada masa sekarang untuk mendidik bangsa kita di masa lalu. Untuk menghindari penjajahan negeri barat, saya kumpulkan seluruh angkatan perang kita dengan senjata lengkap untuk melawan kolonialisme di masa lalu. (bayangkan, senjata militer yang kita miliki sekarang, apabila digunakan pada masa kolonialisme, betapa habatnya senjata kita?) Singkatnya, kita menangkan seluruh perang yang terjadi di masa lalu, apabila mungkin kita turut dalam Perang Dunia I, tetapi dengan satu tujuan: menundukkan kedua blok yang bertikai dan mendamaikannya. Dan... kita, Indonesia, bertugas sebagai “polisi dunia” yang benar-benar adil.
Tetapi, saya menyadari pula bahwa “power tends to corrupt. absolute power, corrupt absolutely.” Artinya, ketika rencana saya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berhasil, berarti negeri ini menjadi negara terhebat di dunia, Indonesia menjadi super power, maka konsekuensi yang akan dituai adalah: mungkin saja Negara Kesatuan Republik Indonesia akan bertindak sewenang-wenang layaknya Amerika Serikat. Akibatnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi negara yang dibenci dan banyak memiliki musuh layaknya Amerika Serikat sekarang ini.
Dalam kondisi demikian, apa yang kemudian saya lakukan? Fiiuuhh... entahlah, daya imajinasi saya hanya sejauh ini membawa saya. Toh, kemungkinan perjalanan menembus ruang dan waktu masih menjadi perdebatan. Jadi, sederhana saja, mantapkan hati kita untuk menjadikan negara ini menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi! Tata tentrem karta raharja!
Juni 2008

2 comments:

  1. saya suka dengan tulisan anda memikrkan hal scara detail jika bangsa lahir, hanya ada dua pilihan menjadi bangsa penindas atau yang tertindas.

    ReplyDelete
  2. Ini hanya angan-angan saya:-) Sekarang tinggal bagaimana kita dan seluruh "pemilik negeri" ini akan membawa Indonesia.

    ReplyDelete

Urgensi Yurisprudensi Putusan Sengketa Informasi dalam Membangun Kesatuan Hukum dan Konsistensi Putusan Sengketa Informasi, Sekaligus Mempercepat Penyelesaian Sengketa di Komisi Informasi

Unduh Artikel disini . 1. Pendahuluan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (...