December 7, 2011

Lupakan Ahmadiyah, Persatuan dan Kesatuan Bangsa Lebih Penting

Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Manteri, yaitu Menteri Agama, Manteri Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung terkait Ahmadiyah telah resmi diterbitkan. Tetapi SKB tidak secara tegas membubarkan Ahmadiyah. SKB hanya menyatakan larangan terhadap segala bentuk aktifitas menyimpang dari agama Islam, umumnya, dan aktifitas Ahmaddiyyah, khususnya.
Terhadap terbitnya SKB ini, Gusdur menanggapi dengan tetap memberikan dukungan terhadap Ahmadiyah. Gusdur menilai bahwa keberadaan Ahmadiyah tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Secara prinsipil, UUD NRI 1945 memberi kebebasan pada aliran kepercayaan dan keagamaan untuk tumbuh kembang di Republik ini, asalkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Gusdur juga mengatakan bahwa tidaklah benar meng-klaim Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Terminologi sesat seharusnya tidak digunakan untuk menafsirkan ajaran Ahmadiyah. Toh dalam kenyataannya, Ahmadiyah tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat menodai agama, kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan norma-norma adat budaya indonesia dan agama-agama yang ada di Indonesia (bandingkan dengan FPI. Ironis bukan?). Ahmadiyah juga memiliki rasul, seperti halnya agama-agama lainnya di Indonesia. Jadi, tidak tepat meng-klaim Ahmadiyah sebagai aliran sesat.
Saya sendiri sependapat dengan gagasan Gusdur tersebut. Tokoh satu ini, meskipun terkadang konyol, tetapi dalam banyak hal, tindakannya tetap didasarkan pada pemikiran yang logis, baik secara budaya maupun hukum. Oleh karena itu, mari mulai bersikap arif dalam menanggapi segala isu yang mengemuka. Ubah paradigma kita. Mari berpikir pada tataran negara, jangan hanya berada pada tataran komunitas tertentu. Tempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan-kepentingan individu atau golongan tertentu. Saya tidak bermaksud mengajak untuk berpikir sekuler, tetapi saya merasa bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Biarkan setiap individu beragama atau berkepercayaan sesuai yang ia percayai. Jangan interupsi keyakinan mereka. Toh, benar atau salah, nantinya mereka sendiri yang akan merengkuh hasilnya. Sikap seperti ini tidak bermaksud untuk menepiskan tanggung jawab agama kita untuk tetap menyeru kepada ajaran-ajaran agama, tetapi tidak berarti harus dengan mendiskreditkan dan menuntut pembubaran kepercayaan dan agama lain bukan? (tetapi sikap seperti ini, untuk beberapa kasus, sangat tidak sesuai. Misalnya, kepercayaan Lia Eden dengan Kerajaan Tuhan-nya, sungguh saya benar-benar menentang agama tersebut).
Jadi, lupakan untuk terus berupaya memaksa individu untuk menjalankan ajaran agama tertentu sesuai keyakinan kita. Memaksa individu untuk menyembah Tuhan anda berarti menempatkan Tuhan anda pada posisi yang rendah. Tuhan terlalu besar dan agung untuk meminta manusia yang DIA ciptakan untuk menyembah-NYA. Tuhan tidak butuh untuk disembah. Terserah, disembah, DIA terima, dan apabila tulus ikhlas, DIA berikan ganjaran atau pahala, tidak disembah juga ora patheken. Karena toh, Tuhan-lah yang memiliki otoritas segalanya di dunia ini. Apabila pun mau, DIA dapat menggunakan otoritas-NYA untuk membuat seluruh manusia untuk menyembah DIRINYA. Tetapi tidak, DIA membiarkan manusia memilih jalannya sendiri, menyembah-NYA sesuai ajaran-NYA atau menyembah-NYA dengan ajaran lain, yang pastinya ditujukan untuk Tuhan (ini kan hanya masalah cara kita menyembah dan mengabdikan diri kepada Tuhan. Jadi, bukan merupakan esensi dari makna penyembahan dan pengabdian diri kepada Tuhan. Saya yakin, Tuhan tidak peduli bagaimana umat-NYA atau cara apa yang digunakan umat-NYA untuk menyembah-NYA), atau tidak menyembah-NYA sama sekali. Silakan, Tuhan sama sekali tidak peduli, karena Tuhan telah menyerahkan sedikit otoritasnya digunakan manusia untuk memilih, mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang hak dan batil, dan seterusnya. Jadi, biarkan setiap individu menentukan jalan takdirnya sendiri. Dan untuk kehidupan berkomunitas negara, mari kita mantapkan jalan takdir kita untuk menjadi negara yang satu, tidak terpecah belah oleh keragaman adat budaya dan agama. Jadikan keragaman sebagai alat pemersatu kita.
Juni 2008

No comments:

Post a Comment

Urgensi Yurisprudensi Putusan Sengketa Informasi dalam Membangun Kesatuan Hukum dan Konsistensi Putusan Sengketa Informasi, Sekaligus Mempercepat Penyelesaian Sengketa di Komisi Informasi

Unduh Artikel disini . 1. Pendahuluan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (...